Tak Ada yang Instan untuk Mocca, Dekat dan Barasuara di Skena Musik Indie

Jakarta

Bicara soal musik dan musisi, apakah kamu punya satu atau dua yang kamu idolakan? Apakah kamu mendengarkan lagunya, membeli album dan merchandisenya, hingga datang ke konsernya?

Tapi aku yakin kamu tak pernah mengkonversikan pengorbanan yang kamu lakukan untuk idolamu, bukan?

Hal inilah yang dilakukan salah satu sahabatku semasa perkuliahan. Namanya Selma, ia adalah seorang Swinging Friends (sebutan fans Mocca) asal Lamongan, Jawa Timur.

Mengaku menjadi Swinging Friends sejak mengenakan seragam putih-biru, rasanya belum sah dianggap fans kalau belum menonton aksi panggung Mocca secara langsung katanya.

Hingga datang suatu waktu semasa SMA, ketika ujian sedang berlangsung bersamaan dengan jadwal Mocca tampil di Surabaya. Resah dan gelisah sempat menghampirinya.

Tapi tahukah kamu apa yang dilakukannya? Ia nekat ke Surabaya dan meninggalkan satu hari ujian di sekolahnya demi menonton Mocca.

Bahkan hingga saat ini ia masih semangat berburu konser Mocca ke berbagai kota.

Katanya, Mocca seakan semangat baginya hingga apapun rela ia lakukan demi mendukung band kesayangannya itu.

Segelintir kisah sahabatku ini membuatku belajar dan paham betapa berartinya keberadaan fans bagi musisi, begitupun sebaliknya.

Itulah yang membuatku paham ketika personil Mocca membagikan cerita tentang betapa berartinya Swinging Friends bagi karier mereka di industri musik Indonesia kepada detikHOT.

“Swinging Friends adalah alasan kami tetap berkarya,” kata Riko kepada detikHOT.

“Karena apalagi masa kita vakum, justru mereka semakin berkembang,” imbuh Arina.

Vakumnya Mocca selama kurang lebih dua setengah tahun karena keputusan Arina untuk berkeluarga menjadi masa-masa terpuruk bagi Mocca.

Bagaimana nasib band ini ke depannya, apa yang akan dilakukan selanjutnya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya muncul silih berganti dibenak para personil.

Di luar dugaan, di tengah vakumnya itu Swinging Friends justru semakin membara. Ditinggal beberapa tahun rupanya tak membuat semangat para penggemar Mocca menjadi surut.

Lihat saja, meski usianya sudah 19 tahun, fans Mocca masih menjamur di mana-mana dan hampir ada di seluruh Indonesia.

Bagi mereka berempat, fans adalah semangat dan inspirasi dalam berkarya. Tak jarang lagu-lagu Mocca terinspirasi dan dibuat khusus untuk para Swinging Friends, lho!

Mulai dari lagu Friends di album Friends, lagu-lagu dalam mini album berjudul Lucky Me, dan masih banyak lagi lainnya.

Jika kita menengok kebelakang, keberadaan musisi indie di Indonesia mulai menjamur di era 2000an awal dan Mocca adalah salah satunya.

Dengan berbekal karya yang anti mainstream, mulai dari lirik, lagu hingga konsep penampilan dan aksi panggung yang unik menjadikan mereka berbeda.

Selain Mocca, mungkin kalian sudah tak asing juga dengan Silampukau, Efek Rumah Kaca (ERK), Polka Wars, Barasuara, Endank Soekamti, White Shoes & The Couples Company, dan masih banyak lagi lainnya.

Kemampuan bermusik para band indie ini tak bisa di anggap remeh. Dari yang awalnya dinilai kurang ‘menarik’ bagi kacamata label major, akhirnya mereka mampu menciptakan pasarnya sendiri.

Bahkan tak hanya diakui di Indonesia, banyak pendengar asal luar negeri yang juga menikmati musik-musik karya musisi independen Indonesia.

Mereka hadir dari hasil usaha dan perjuangan yang mereka lakukan. Banyak hal yang dilalui dengan pengorbanan yang tidaklah kecil.

Dekat misalnya, setelah bertahun-tahun dikenal sebagai Tangga dan tiga personilnya membentuk kelompok musik baru ternyata bukan hal yang mudah.

“Halangan nomor satu kami adalah sejarah, ini yang paling sulit untuk Dekat mulai diterima sebagai Dekat,” kata Kamga.

“Halangan lainnya uang, kalo mau bikin apapun kan butuh uang. Meskipun sekarang bisa bikin musik sendiri tapi artworknya, masteringnya, dan lain-lainnya?” imbuh Kamga.

Tak Ada yang Instan untuk Mocca, Dekat dan Barasuara di Skena Musik IndieFoto: Nivita Saldyni A.

Sejarah dan uang adalah lawan utama bagi Dekat untuk mengembangkan sayapnya di industri musik tanah air. Menurutnya, membangun sejarah sebagai Dekat adalah PR tersebesar.

Hal ini akibat pengalamannya pernah berada di bawah naungan label besar, bersama Tangga. Namun setelah sebelas tahun berkarier sebagai Tangga, akhirnya ketiganya kompak untuk memilih berdiri sendiri.

“Hidup ini kan ada pilihannya. Mau miskin tapi hati lo bahagia atau lo gak bahagia tapi lo kaya. Tapi di saat lo gak dapet dua-duanya, lo mau ngapain?” ungkapnya.

Tak ada yang salah dengan hubungan antar personil. Hanya saja, kebahagiaan batin yang didapat ketika membawakan musik sendiri dan kebabasan dalam berkarya adalah kunci dalam bermusik bagi Dekat.

“Kalau sekarang hati gimana? Happy. Uangnya udah dapet belom? Belom sih, tapi kita selalu beranggapan duitnya nih masih on the way,” canda Tata.

“Sambil berdoa dan berusaha supaya di kasih nih yang satu lagi,” imbuh Chevrina.

Hampir lima tahun berjalan sebagai Dekat, masih banyak komentar-komentar pedas tentang keberadaan Dekat.

Tak jarang pula yang membandingkannya dengan Tangga, nama yang membesarkan ketiganya.

Namun ketiganya tak menganggap pusing dan menanggapinya dengan bijak.

“Kritik dan sebagainya harus kita terima karena itu kan hak mereka.Ttapi kita sih fokus ke yang suka karya-karya kita aja,” kata Kamga santai.

“Kita sih intinya fokus dengan manggung yang bagus, bikin album yang bagus, dan selalu berkarya supaya semua bisa tetap menikmati karya-karya kami,” imbuh Kamga.

Empat tahun lebih memilih berdiri secara independen, melewati suka dan duka bersama hingga mengenal satu sama lainnya dengan baik adalah pengalaman yang tak mudah bagi Dekat.

“Empat tahun bagi Dekat adalah pembelajaran. Gimana caranya bertahan hidup dan berharap, besok ada apa itu yang makanya sampe sekarang masih kita masih bertahan,” kata Chevrina.

“Jangan cepet menyerah sih intinya,” imbuh Kamga.

Beda halnya dengan Barasuara yang diinisiasi oleh Iga Masardi. Mereka disatukan dengan sejarah yang berbeda-beda.

Mereka bersatu dalam sebuah format band dengan personil yang memiliki latar belakang musik beragam dan memutuskan untuk berkarir secara independen.

“Perbedaan latar belakang musik itu bukan halangan, justru bisa memperkaya musik kami,” ungkap Iga.

Komitemen untuk bersama membuat Barasuara tetap langgeng meski personilnya memiliki kesibukan dengan proyek masing-masing.

Soal penggemar, tak perlu ditanya. Mereka memiliki Penunggang Badai (sebutan fans Barasuara) yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Ditanya soal karier Barasuara yang terus melejit, Iga mengungkapkan tak ada rahasia khusus.

“Setiap band punya cara sendiri untuk struggling, satu poin yang bisa saya bagi ya semua itu butuh waktu,” kata Iga.

Tak Ada yang Instan untuk Mocca, Dekat dan Barasuara di Skena Musik IndieFoto: Nivita Saldyni A.

“Jadi waktu, reputasi, pendengar, stage age, dan kematangan band itu sendiri adalah proses yang nggak bisa diambil jalan pintasnya dan perlu pengalaman,” imbuhnya.

Bagi Iga, janganlah terlalu terlena dengan kemudahan teknologi dalam proses produksi sebuah karya musik hingga promosi.

Tak ada yang namanya jalan pintas dalam bermusik. Tak ada yang instan untuk sebuah keberhasilan.

Ada perjuangan, usaha, dan pengalaman yang harus dibayar.

Manfaatkan segala kemudahan yang ada dengan baik. Bukan lantas menjadikannya jalan pintas untuk mencapai kesuksesan dalam berkarier.

(ken/ken)