Setelah 10 Tahun, Pongki Buka Alasan Keluar dari Jikustik

Jakarta

10 tahun lamanya Pongki Barata tak saling bicara dengan personel Jikustik yang masih tersisa. Pada 2009, ia memutuskan beristirahat dari band yang membesarkan namanya tersebut. Disusul setelahnya, ia memutuskan keluar pada 2011.

“2009 saya vakum, tapi kevakuman itu tidak direspons oleh band saya. 2011 akhirnya saya keluar. Di situlah saya tidak pernah berkomunikasi baik lisan maupun tulisan,” kenang Pongki saat ditemui di Hard Rock Cafe, SCBD, Jakarta Selatan.

Lewat sebuah email yang ditulisnya, Pongki menyatakan permintaan maafnya sekaligus meminta izin untuk keluar dari band. Keputusan Pongki tersebut rupanya membuat Jikustik geger. Tak lama setelahnya, Icha ikut memutuskan mundur.


Dadi sempat ikut mengatakan niat ingin hengkang, namun pada akhirnya ia kembali bergabung dalam band. “Waktu itu sempat tersisa hanya Adhit dan saya,” ungkap Carlo.

“Adhit main ke rumah saya waktu itu, terus saya bilang, ‘Yauwis mungkin aku sama kamu, sekarang kita berdua yang harus jaga rumah. Waktu itu cuma saya sama Adhit yang memegang bendera Jikustik,” kisah Carlo.

Sejak 2009 hingga 2019, Pongki mengaku masih belum mengungkapkan apa permasalahan yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya ingin hengkang. Saat itu Pongki mulai sibuk dengan The Dance Company. Pongki merasa, Jikustik juga harus melakukan sesuatu agar terus eksis di industri musik.

Hanya saja saat itu, Pongki merasa ada banyak ide-idenya yang tak bisa ia realisasikan di Jikustik. Sebab, dalam band ia harus berbagi ide dengan teman-teman lainnya. Kerap kali perdebatan masalah karya di antara personelnya tak menemui jalan tengah yang membuahkan ketidakpuasan antar satu sama lain.

“Jadi saya keluar dari Jikustik karena saya kecewa, saya merasa saya bisa ‘mati’ kalau di band ini. Saya tidak bisa melakukan konsep yang ada di kepala saya karena baru mengeluarkan ide, teman-teman ternyata juga punya ide lain. Saya merasa tak ternaungi ide-ide itu,” ceritanya.

Rupanya persoalan ide dan idealisme bukanlah satu-satunya pemicu masalah. Pongki melanjutkan, bahwa jarak kerap menjadi kendala bagi ia dan teman-teman satu bandnya untuk bertemu dan berkompromi.

“Kemudian jadwal, saya tinggal di Jakarta, mereka tinggal di Jogja. Itu komukasi terputus di situ. Kemudian ada masalah internal juga di manajemen kami saat itu. Sayangnya kami semua tidak pernah ngomongin karena kami paling tidak suka meeting,” tutur Pongki.

Sejumlah kesalahpahaman pun membuat masalah semakin meruncing. Saat itu salah satu stasiun televisi membuat acara konser dengan skala cukup besar. Icha merasa heran mengapa Jikustik tidak diundang untuk tampi di sana. Padahal mereka kerap mendapatkan undangan dari stasiun televisi tersebut.

Ketika Icha bertanya kepada manager Jikustik pada saat itu, mengapa band mereka tidak tampil di acara tersebut, managernya menjawab bahwa hari itu jadwal Pongki bentrok karena ada jadwal manggung.

“Kami lalu, ‘Oh ya udah lah’. Terus karena kami nggak main, kami nonton televisi itu, ternyata ada Pongki main sama The Dance Company. Nah itu di situ,” ungkap Icha.

Icha mengaku di situlah titik ia dan para personel Jikustik lainnya saat itu menjadi salah paham. Hanya saja, Adhit menegaskan, ia dan bandnya tidak pernah menyalahkan kesibukan Pongki di The Dance Company.

“Jikustik tidak pernah menyalahkan The Dance Company atas keluarnya Pongki,” ucap Adhit.

Pada saat itu Pongki sebenarnya paham bila permasalahan akan meruncing bila ia diam saja, namun ia tidak sampai hati bila harus berterus terang pada saat itu. Sebab ia memahami kondisi bandnya yang tengah keruh.

“Saya nggak bisa ngomong ini, waktu itu, karena saya tidak mau menyakiti hati mereka. Biarpun dengan saya nggak ngomong, ternyata mereka sakit hati juga,” jelasnya.

“Pada saat itu Pongki tidak mengemukakan alasannya (keluar dari Jikustik) karean dia tau konsekuensinya kaya apa,” tambah Icha membantu menjelaskan.

Saat ini telah berselang 10 tahun dari 2009. Akhirnya pada 5 Februari 2019 kelima personel dan mantan personel Jikustik tersebut bertemu kembali di kantor Rajawali Indonesia yang bertempat di Yogyakarta.

Suasana masih terasa kaku pada awalnya. Akan tetapi mereka pun akhirnya berpelukan dan saling menyapa. Pertenyaan “Apa kabar?” dan “Anak-anakmu gimana?” adalah obrolan yang pertema kali dilemparkan satu sama lain.

Mengembalikan komunikasi yang terputus selama 10 tahun memang bukan hal mudah bagi Jikustik. Mereka mengaku masih menjalani proses rekonsiliasi secara bertahap.

Akan tetapi, para personel dan mantan personel tersebut sudah sepakat untuk mengesampingkan ego masing-masing dan berbaikan dengan tulus.

Jikustik pun akan menggelar konser reuni dengan tajuk ‘Jikustik Reunian’ di Grand Pacific Hall, Yogyakarta pada 29 Maret mendatang. Dalam konser tersebut, mereka akan tampil degan formasi berlima yang diisi oleh Pongki (vokal, gitar), Icha (bas, vokal), Dadi (gitar, vokal), Adhit (kibor) dan Carlo (drum).

(srs/doc)

Photo Gallery