Joko in Berlin, Unit Indie Pop Lokal Rasa Eropa

Jakarta – Sesuatu yang lokal memang tak selamanya payah. Joko in Berlin mencoba membuktikan hal tersebut. Band indie pop asal Jakarta ini punya rasa Eropa yang mengagumkan.

Sebelum lebih jauh berbicara soal musiknya, nama Joko in Berlin cukup menarik untuk dikulik. Mereka adalah Mellita Sie (vokalis), Kelana Halim (gitar), Fran Rabit (bass), Popo Fauza (keyboard) dan Aditya Subakti (drum).

Popo menjelaskan dalam siaran persnya nama bandnya itu punya makna khusus. Joko menurutnya merepresentasikan domisili dan background band di Asia, khususnya di Pulau Jawa.

“Berlin melambangkan influence scene musik Eropa yang sangat kental di dalam karya-karya kami,” ujar suami dari Alena Wu itu.

Dalam dua tahun keberadaannya, Joko in Berlin mengaku terinsipirasi dari penyanyi asal Islandia, Bjork. Sound lawas juga mereka sajikan di dalam karyanya demi hasil yang lebih kaya dan berbeda.

“Kalau dari segi musik, Joko in Berlin ada empat komposer lagu. Dari lagu dasar akan dilempar ke saya, untuk diaransemen. Setelah itu diaransemen lagi dan diisi vokal dan band-nya,” kata Popo.

“Kami memilih aransemen dengan menggabungkan sound era 80-an dan 90-an. Karena kami ingin memadukan musik yang kekinian dengan unsur cinematic dan unik untuk generasi milenial,” imbuhnya.

Joko in BerlinJoko in Berlin Foto: Joko in Berlin

Dari dapur lirik, Joko in Berlin punya ramuan khusus. Mereka tak melulu berkutat dengan tema cinta, seperti yang tersaji di ‘Ballad of Colors’, ‘3AM’ dan ‘Beauteous’.

“Untuk tema lirik lagunya, Joko in Berlin lebih menuju ke hal sehari-hari yang dilihat dari perspektif psikologi. Ada juga berterima kasih dengan anugerah indahnya alam, menghadapi delusi dan mimpi,” tutup Popo.
(dar/nu2)

Photo Gallery

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20