Demokrasi dan Kontestasi Politik dari Mata Cholil Mahmud ‘ERK’

Jakarta – Selama ini, Efek Rumah Kaca (ERK) dikenal sebagai band yang lantang menyuarakan isu dan kritik sosial lewat lagu-lagunya. Misalnya lagu ‘Di Udara’ yang menyoalkan tentang pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Thalib.

Lagu yang disebut Ucok ‘Homicide’ sebagai salah satu lagu protes terbaik dalam buku ‘Setelah Boombox Usai Menyalak’ tersebut sukses membawa Efek Rumah Kaca menjadi salah satu band yang keberadaannya berkelindan dengan kondisi politik di Indonesia.

Efek Rumah Kaca, dianggap oleh penggemarnya, sebagai band yang memiliki sikap terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar.


2019 menjadi tahun politik di mana rakyat Indonesia akan merayakan pesta demokrasi berupa Pemilihan Umum (Pemilu). ‘Keributan’ yang merupakan buah dari kontestasi politik tak terhindarkan. Saling serang antar pendukung kubu pun tak terhindarkan.

Media sosial menjadi ruang yang nyaman untuk para warganet saling beradu argumen. Bagaimana tidak, mereka dapat bicara hanya lewat jempol, tanpa harus takut akan timbul adu jotos secara fisik.

detikHOT bertemu dengan Cholil Mahmud, vokalis dari Efek Rumah Kaca, di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Menyoroti hal tersebut, Cholil menganggap hal itu sebagai perkara wajar yang kerap terjadi di negara yang berlandaskan demokrasi.

“Kalau menurut saya sih jangan capek mendengarkan keributan politik. Itu berkah buat kita karena kita semua dikasih suara sekarang. Memang pasti bising banget, tapi nanti kalau sudah nggak punya suara, kita pasti akan rindu jaman ini,” ujarnya.

Bagi Cholil, menjadi tantangan untuk kita untuk cerdas memilih mana yang harus kita cerna, mana yang harus ditinggalkan. Akan tetapi, ia mengatakan hal itu harus disyukuri.

“Nggak apa-apa kita bersuara sekarang dan jangan capek, ketimbang kita memasrahkan keputusan-keputusan politik kita kepada orang-orang yang mungkin nggak layak kita percaya,” katanya.

Meski demikian, Cholil Mahmud memandang optimis perkembangan demokrasi di Indonesia. “Optimis harus ada buat kita melangkah, harus ada optimis,” ucapnya.

Mengaku optimis, ia tetap tidak menutup mata demokrasi di masa kini memiliki tantangan yang lebih berat.

“Meskipun tantangannya berbeda karena internet sudah ada sekarang. Misalnya negara-negara maju, waktu dia bangun demokrasi itu belum ada internet. Tantangan sih buat kita, tapi internet juga banyak banget manfaatnya. Optimis sih masih ya, harus,” tuturnya.
(srs/dar)

Photo Gallery